DI BALIK KARUNG JABATAN

Oleh : Pak Guru Top

Siang itu, Warung Yu Jemi seperti biasa ramai. Warung kecil di pinggir jalan desa itu memang tidak pernah sepi. Selain menjual kopi, gorengan, rokok, lontong dan pecel, warung tersebut juga menjadi tempat bertemunya berbagai macam manusia. Maklumlah Desa Mojo Semi ini terkenal dengan sebutan Desa Pemulung. Walau  desa kecil tetapi penduduknya banyak yang menjadi bos, BOS ROSOK yakni menjadi penampung dan menjual rongsokan atau barang bekas. Tidak mengherankan setiap hari didatangi banyak orang. Orang-orang yang bergelut dalam bisnis rosokan atau yang ingin mencari keuntungan dari barang-barang bekas tersebut baik dijual lagi ataupun sekedar untuk dipakai sendiri.

Walau penduduk desa sini banyak yang jadi bos, anak-anaknya tidak banyak yang lulus perguruan tinggi. Anak-anak mereka kebanyakan hanya memenuhi wajar 9 tahun. Menurut mereka sekolah tinggi-tinggi percuma. Ujung-ujungnya lulus kuliah mencari kerja alias mencari duit. Mending lulus SMA atau SMK pergi ke luar negeri mencari modal. Jika sudah mendapatkan uang yang banyak, uangnya untuk modal menjadi bos rosok karena bisnis barang bekas sangat menguntungkan. Modal sedikit untungnya gede. Lagi pula menjadi bos rosok tidak perlu sekolah duwur-duwur. Cukup bisa menaksir harga saat membeli dan selalu apdate harga logam, kertas, plastik dll.

Suasana di Warung Kopi Yu Jemi siang itu lebih panas dari biasanya. Bukan cuaca siang yang panas. Bukan pula cuaca musim kemarau yang kian merenggut sumber-sumber mata air desa mereka, melainkaan karena Kabupaten Parang Garuda viral lagi. Wajah pemimpin mereka menghiasi TV-TV nasional dan ramai dibicarakan di media sosial: di facebook., tik-tok, instragam, youtube dll.

Kalau kemarin-kemarin pemberitaan Bupati Parang Garuda yang viral karena  di demo para aktivis dan warga masyarakat yang menaikkan pajak yang tidak tanggung-tanggung jumlah kenaikannya hingga ratusan persen. Kali ini wajah  Pak Sungkono, Bupati Parang Garuda yang baru menjabat beberapa bulan itu viral lagi karena ketangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di istananya. Saat penggledahan KPK menemukan uang tunai yang sangat fantastis jumlahnya, 1,5 trilyun rupiah di kantornya yang dibungkus rapi di dalam beberapa karung, diduga hasil memeras calon perangkat desa.

Berita itu langsung memicu perdebatan sengit di antara warga Kabupaten Parang Garuda terutama para warga yang lagi menikmati kopi di Warung Kopi Yu Jemi.

"Makanya, jadi pejabat itu jangan serakah! Ketahuan kan belangnya? Nyimpen uang suap kok ya… di dalam karung, dikira mau ngudalno rongsokan apa! Sekarang ketangkap KPK!" gerutu Mariden.

Mariden ini penduduk Desa Mojos Semi . Dulu dia sering merantau. Jadi Bang Thoyib. Tidak pulang-pulang. Saat masih merantau tidak pernah ngirim uang. Akhirnya dia disuruh pulang istrinya. Malah ongkos untuk pulang dikirimi uang istrinya dari Jawa. Mariden di suruh kerja apa adanya di rumah. Untuk menopang ekonomi keluarga, Karwati, istri Mariden yang ganti bekerja di luar negeri.

“Ada apa Din?” tanya Darsono pura-pura belum tahu akar pembicaraan.

Nyinggung uang yang dibungkus karung dan KPK, kuping Darsono agak gatal. Maklumlah  dia pengikut akut, Bupati baru Parang Garuda itu. Apalagi Mariden dan Darsono bersaing dalam mencari dukungan masa saat pencalonan kemarin. Mariden mendukung Pak Wahyono, pesaing Pak Sungkono, sedangkan Darsono mendukung Pak Sungkono. Malahan pada saat malam coblosan, dua orang ini kejar-kejaran karena saling menuduh akan melakukan serangan fajar.  

“Pura-pura tidak tahu. itu junjunganmu. Yang kamu bangga-banggakan katanya Pahlawan Pembangunan di Kabupaten Parang Garuda, ditangkap KPK karena karupsi. KPK menemukan uang 1, 5 triliyun di dalam karung!”

“Kalau kamu tidak tahu lebih baik diam Din! Lebih baik, cari mesin cuci atau kulkas bekas yang bisa dijual lagi!”

 Mariden ini sekarang punya bisnis jual beli TV, kulkas dan mesin cuci bekas. Tiap hari kerjanya selain ngopi dan menthelengi HP, dia mengunjungi gudang-gudang rongsokan mencari TV, kulkas dan mesin cuci bekas yang masih bagus untuk dijual lagi. Jika mendapati barang yang bagus tetapai mesinnya mati, langsung di bawa ke rumah Ahmad seorang bengkel elektronik otodidak warga Mojo Semi ini.

“Lo., ini beritanya udah virak kok! Di TV NASIONAL! Di media sosial juga ada!”

“Uang 1 milyar setengah itu berapa karung Din?”

“Wah, berkarung-karung itu Pak Yanto! Mungkin satu brondol!”

“Saya uang seratus juta saja belum pernah megang, apalagi 1, 5 M. kata Sareman sambil mengaduk kopi di depannya.

"Ah, kaget kok ya sama Bupati ketangkap. Di negeri ini, maling teriak maling itu biasa, . Yang kaget itu harusnya kalau ada pejabat yang jujur sampai pensiun enggak punya apa-apa." Sambung Yu Jemi sambil menaruh gorengan di atas meja.

“Wah, itu bukan manusia Yu. Malaikat. Sekarang hampir tidak ada orang seperti itu. Dari pejabat yang di Jakarta sampai pelosok negri ini semuanya doyan duit.” Sahut Mariden.

“Ah, omonganmu Din, Din..! Masak di negri ini tidak ada pejabat yang jujur. Lambe itu jangan waton jeplak, Din!”

“Kataku kan HAMPIR, Yu! He he he…!

“Masalah uang untuk pencalonan perangkat desa itu sudah wajar, Din! Bupati-bupati sebelumnya sudah biasa. sudah lumrah.” Kata Pak Ali seorang blantik (makelar) motor seken yang duduk di sebelahnya.

Pak Ali ini penduduk Desa Tunggak Semi, desa sebelah. Namun dia sering ngopi di warung Yu Jemi. Kalau dulu dia blantik di Pasar Wedarijaksa. Sekarang tiap hari di Mojo Semi. cari sepeda motor bekas yang masih hidup mesinnya dan cari onderdil sepeda motor. Pak Ali orang jadul tidak bisa memasarkan barang dagangannya secara online seperti Mariden. Dia hanya membuka lapak di depan rumahnya.  

“Iya, betul Pak Ali, dari dulu juga begitu. Kalau ingin jadi sarekat harus punya banyak duit. Karena jabatan sarekat atau perangkat desa sekarang itu wenak. Sedikit bekerja tetapi bayarannya double. Dapat bayaran dari pemerintah tiap bulan dan dapat hasil dari garapan sawah. Kalau dulu kan, tidak. Dulu penghasilan sarekat desa hanya dari sawah saja,” jelas Cahyono sambil mengepulkan asap rokok yang ada di mulutnya.

“Tetapi tidak begitu juga No…, nanti kalau maju duitnya kan kasihan yang anak orang miskin. Tidak bisa jadi sarekat karena tidak punya duit!”

Nada bicara Mariden semakin meninggi. Kali ini dia merasa di atas angin. Dia merasa punya celah untuk memuntahkan kekesalannya kepada bupati baru itu dan membalas pendukungnya. Karena  kemarin-kemarin dia selalu diolok-olok.  Jagonya boti lah. Jagonya tidak bisa kluruklah. Masih banyak lagi kata-kata yang membuat Mariden kupingnya kepanasan..

 “Kalau hanya membayar mahar ratusan juta bagi calon perangkat desa itu menurutku tidak sampai seumur hidup bisa lep (balik modal). Kira-kira 5 tahun uang ratusan juta itu bisa kembali. Coba kita hitung. Sekarang gaji sarekat tiap bulan 2 juta 500. Kali 1 tahun berapa? 25 juta. Dua puluh lima juta dikali 5 berapa? 125 juta. Padahal sarekat di Desa Mojo Semi ini mendapat garapan sawah minimal 4 hektar. Empat hektar itu sama dengan 5 bahu. Panen satu kali tiap bahu sekitar 30 juta. Padahal panen 2 kali dalam satu tahun. Dalam satu tahun sawah menghasilkan 60 juta. 60 juta dikali 5 sudah 300-an juta. Jadi wajar kalau menjadi sarekat uangnya gede, belum ada 5 tahun udah balik modal,” kata Parno menjabarkan.

Parno ini penduduk desa sebelah, Desa Karang Tunggak tetapi dia menikah dengan orang sini.  Tinggalnya tidak di Mojo Semi. Ngopinya di Mojo Semi. Masalah hitung-menghitung atau taksir menaksir Parno ini jago karena pekerjaannya tebasan padi. Sebelum ada mesin dari Jepang untuk memanen padi. Parno membeli padi dengan mengukur luas sawah dengan langkah kaki. Dengar-dengar anak Parno ini bisa menjadi Kadus (Kepala Dusun) di Karang Tunggak karena dia mengeluarkan uang sekitar 500 juta rupiah.

 “Pantesan terdengar kabar, mahar untuk menjadi carik atau sekdes di Desa Mojo Semi ini sekitar 750-an juta!” sindir Mariden, “Karena carik Desa Mojo Semi ini mendapat garapan sawah 10 hektar!”

Suasana warung makin memanas ketika Yatno, seorang pedagang keliling, ikut nimbrung dengan mata berkaca-kaca. Hatinya masih menyimpan luka mendalam. Yatno ini warga desa sebelah dan berbeda kecamatan dengan Desa Mojo Semi.

"Betul katamu Din,...! Anak saya kemarin gagal jadi sekdes gara-gara uangnya kurang. Dar! Padahal nilainya ujian tertulisnya ranking satu tertinggi sekecamatan! Tapi apa daya, kalah sama yang uangnya tebal di belakang meja. Anak saya nangis semalaman, cita-citanya hancur seketika karena sistem busuk ini!" curhat Yatno dengan nada gemetar.

Nugroho, anak Yatno memang gagal saat ikut pencalonan sarekat. Padahal Nugroho terkenal pintar. Pengabdian di masyarakat ada. Beberapa organisasi kemasyarakatan diikuti. Sementara Dimas yang menjadi sekdes sekarang  hanya lulusan kejar paket C. Orangnya bisa dibilang kurang  pandai.

 “Wajar dong, kalau ada mahar politik atau uang pelicin. Dari dulu-dulu penjaringan perangkat desa ya begini jalannya, bukan rahasia lagi!" seru Darsono membela diri.

“Itu namanya membeli kucing di dalam karung! Kalau jadinya menggunakan uang ratusan juta bagaimana nanti saat menjabat? Pasti ujung-ujungnya cari duit. Kerja pasti malas. Tidak sesuai kapasitasnya. Yang seharusnya punya kemampuan harus tersingkir karena tidak punya duit!”seru Mariden

"Kalau itu uang hasil meminta mahar ya nggak pa, pa Din! Coba lihat di desa kita waktu pengisian empat perangkat kemarin! Wajar kalau bayar, karena posisinya basah. Waktu itu formasi Carik (Sekretaris Desa) dipatok 750 juta rupiah, Bayan 400 juta rupiah, Ladu 400 juta rupiah, dan Petengan juga 400 juta rupiah! Ya adil dong, ada harga ada rupa!" Kata Darsono blak-blakan.

"Edan! Otakmu di mana, Darsono?!" bentak Mariden dengan suara baritonnya yang tegas. "Pantas saja desa kita mandek, enggak maju-maju! Jabatan kok dijadikan dagangan sapi! Kalau yang jadi perangkat itu orang bodoh tapi punya duit, hancur pelayanan publik. Yang pintar tapi miskin, gigit jari!"

Yu Jemi sang pemilik warung, hanya bisa mengelus dada sambil mondar-mandir merapikan piring kotor. "Sudah-sudah, jangan pada ribut di warung saya. Nanti kopinya tumpah semua. Minum dulu biar adem kepalanya."

Di tengah keributan dan adu argumen yang nyaris berujung adu jotos antara Darsono dan Mariden, tirai bambu warung disingkap.. Masuklah Pak Darma, seorang pensiunan guru yang juga mantan ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Mojo Semi. Sosoknya yang sepuh, berwibawa, dan dikenal sangat membenci praktik korupsi langsung membuat suasana warung mendadak hening. Pak Darma duduk di kursi kosong yang disodorkan oleh Yu Jemi. Ia memesan segelas teh pahit hangat sebelum mulai berbicara.

"Ada apa ini ribut-ribut sampai luar? Membicarakan berita bupati yang ketangkap KPK?" tanya Pak Darma tenang.

"Iya, Pak Guru! Ini Darsono malah membela tindakan suap jabatan perangkat desa. Katanya wajar karena dari dulu sudah begitu," adu Mariden.

Pak Darma menghela napas panjang, lalu memandang satu per satu wajah orang-orang di warung tersebut dengan tatapan bijak.

"Korupsi dan jual beli jabatan di tingkat desa itu hanyalah cerminan kecil dari penyakit kronis di tingkat pusat, Kardi," ucap Pak Darma memulai penjelasannya. "Pejabat-pejabat di negara ini, dari atas sampai bawah, banyak yang lupa bahwa kekuasaan itu amanah. Ketika kursi jabatan dibeli dengan harga miliaran rupiah lewat suap, saat mereka duduk di singgasana, yang dipikirkan pertama kali bukanlah bagaimana melayani rakyat, melainkan bagaimana cara 'balik modal' secepat mungkin!"

Darsono terdiam, mencoba mencerna kata-kata mantan gurunya itu. Pak Darma melanjutkan dengan nada prihatin.

"Bayangkan, bupati tertangkap membawa uang karung 1,5 triliun. Itu uang dari mana kalau bukan dari upeti proyek, perizinan, dan jual beli jabatan seperti yang kamu banggakan itu, Kardi? Kalau fondasi pemerintahannya sudah dibangun di atas uang suap dan sogokan, maka bangunan hukum dan keadilannya pasti akan runtuh. Korbannya siapa? Ya anak-anak kita seperti anaknya Pak Yatno, rakyat kecil yang jujur tapi tertindas sistem."

Semua orang di warung terdiam seribu bahasa. Argumen tajam namun sarat makna dari Pak Darma berhasil menohok nurani setiap orang yang mendengarkannya, menyadarkan mereka bahwa budaya suap sekecil apapun adalah akar kehancuran bersama.

 

 

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

Post a Comment

 
Top